Selasa, 29 November 2022

PERAN PENDIDIKAN YANG TAK TERTELAN ZAMAN




Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi peserta didik khususnya dalam hal penguatan karakter. Ada salah seorang tokoh pendidikan yang ajaran dan budi pekerti beliau masih terus ditanmkan dalam diri setiap peljar walaupun sudah tertelan zaman, beliau adalah Ki Hajar Dewantara. 

Ki Hajar Dewantara mendapat julukan sebagai Bapak Pendidikan karena beliau berhasil mendirikan sebuah sekolah bernama Perguruan Nasional Taman Siswa. 

Ketika mendirikan sekolah yang sering juga disebut sebagai Taman Siswa tersebut, Ki Hajar Dewantara membuat tiga buah semboyan yang sampai saat ini masih digunakan di dunia pendidikan.
Saat menjadi pendiri sekaligus pengajar dalam sekolah yang dibuatnya, Ki Hajar Dewantara menciptakan tiga semboyan bagi para guru atau pengajar.

Semboyan ini terdiri dari tiga poin yang ditulis dalam bahasa Jawa dan menjadi pedoman bagi guru atau pengajar saat membimbing murid-muridnya dalam hal pembelajaran.

Tiga poim ajaran tersebut tertuang dalam kalimat-kalimatnya yaitu :
Ing Ngarso Sun Tulodho, yang berarti di depan (pimpinan) harus memberi teladan.

Ing Madyo Mangun Karso, yang bermakna di tengah memberi bimbingan.

Tut Wuri Handayani, yang mengandung arti di belakang memberi dorongan.

Jika disatukan, kalimat itu menjadi “Ing Ngarso Sun Tulodho Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani.”
Ketiganya merupakan peran pendidikan. 

Semboyan pertama adalah ing ngarsa sung tulada, yang jika diuraikan satu persatu, terdiri dari kata ing yang berarti "di", ngarsa yang berarti "depan", sung berarti "jadi", dan tulada yang merupakan "contoh" atau "panutan".
Dari kalimat tersebut bisa disimpulkan bahwa semboyan Ki Hajar Dewantara yang pertama ini mempunyai arti "di depan menjadi contoh atau panutan".
Ini artinya, seorang guru, pengajar, atau pemimpin harus bisa memberikan contoh serta panutan kepada orang lain di sekitarnya saat ia berada di depan.

Semboyan yang kedua adalah Ing madyo mangun karso. Ing artinya "di", madya memiliki arti "tengah", sedangkan mangun berarti "membangun" atau "memberikan", dan karsa memiliki arti "kemauan", "semangat", atau "niat".
Jika digabungkan, semboyan ing madya mangun karsa memiliki arti yaitu "di tengah memberi atau membangun semangat, niat, maupun kemauan".
Semboyan ing madya mangun karsa memiliki makna bahwa ketika guru atau pengajar berada di tengah-tengah orang lain maupun muridnya, guru harus bisa membangkitkan atau membangun niat, kemauan, dan semangat dalam diri orang lain di sekitarnya.

Semboyan ketiga yang diciptakan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu tut wuri handayani. Kata tut wuri dapat diartikan sebagai "di belakang" atau "mengikuti dari belakang" dan handayani yang berarti "memberikan dorongan" atau "semangat".
Dari pengertian tersebut, bisa diartikan tut wuri handayani memiliki arti "di belakang memberikan semangat atau dorongan".
Makna dari semboyan ketiga ini berarti ketika berada di belakang, pengajar atau guru harus bisa memberikan semangat maupun dorongan kepada para muridnya.
Pada saatnya berada di tengah-tengah orang lain, ia mesti mampu menggelorakan semangat demi perubahan yang lebih baik.
Ketika berada di belakang sebagai pengayom/penasehat, ia mampu menggerakkan orang-orang di depannya supaya kehendak tetap menggelora dan keteladanan tetap berjalan.


https://pingkanhendrayana.blogspot.com/2022/05/guru-berperan-sukses-di-genggaman.html 

PRESTASI SEGUDANG JAMINAN MASA DEPAN?

        Berbicara mengenai pendidikan di kalangan pelajar tak akan lepas dari yang namanya potensi akademin dan non akademin. Sebagai pelaja...